Pendidikan Seks


Dari survey “Siapa yang tepat mengajarkan pendidikan sex di usia remaja?” yang pertama adalah : Orangtua

Orang tua wajib memberi realita yang sesungguhnya tentang seks kepada anak-anak remajanya untuk mengindarkan anak2 dari penyakit jiwa (yang disebabkan oleh seks) dan anak2 akan menghargai seks dengan lebih luhur.

Ada banyak contoh penyakit jiwa akibat dari trauma seksual antara lain : phobia, akibat obsesi & paksaan, histeris & aneka macamnya, frigiditas pada wanita, impoten pada pria, homoseksual, ketidakseimbangan seksual dan penyimpangan-penyimpangan seksual lainnya.

Permasalahannya adalah budaya masyrakat kita yang beraggapan masalah sexual adalah hal yang sangat tabu, sesuatu topik  yang “tertutup”. salah satu contoh, ketika si kecil bertanya ” dari mana mereka bisa mendapatkan adik lagi?,,karena perasaan tabu tersebut, orang tua akan memberikan pengertian-pengertian di luar realita atas pertanyaan sederhana tsb.

stop..

karena menurut pakar pendidikan jawaban2 yang salah ini memberikan kontribusi yang besar  kepada anak-anak dalam gangguan2 psikologi seksual. pertanyaan yang  kemudian hadir adalah,

Apakah dengan memberikan informasi sejelas-jelasnya tentang seks kepada anak-anak, mereka akan terus berjalan “lurus”???

Atas rasa  kekhawatiran tersebut  maka dirasakan perlu dihadirkan  “pendidikan seks pada anak-anak sesuai dengan perkembangan si anak”, dan orangtua wajib memberikan realita kepada anak2, agar segala sesuatunya menjadi benar dan jelas. aspek yang paling penting adalah gambaran keseluruhan dari hubungan di antara orangtuanya, orantua dan anak2. jika orangtua  saling menghormati, mencintai dan menghargai satu sama lain, maka sang anak akan membentuk sebuah imajinasi dasar yang kuat untuk menjadi pedoman hidupnya di kemudian hari, setelah mereka dewasa. Sikap anak akan lebih ke sikap orangtua dari jenis kelamin yang sama (Ayah ke anak lelaki, Ibu ke anak perempuan), sikap suka menolong, mencintai dan mengasihi.

Ketika anak bertanya, orang tua wajib memberikan jawaban yang benar (tidak harus sempurna), didengar atau tidaknya adalah soal yang kedua, karena yang lebih penting adalah contoh kehidupan “sehat” dari kedua orangtua mereka. jika perasaan si anak sudah mantap, walaupun anak mendengar keterangan yang salah dari teman atau buku terlarang, maka kesalahan informasi ini hanya sedikit saja pengaruhnya pada si anak.

hal selanjutnya  yang juga tidak kalah pentingnya sebagai orangtua adalah diskusi. Sebagai salah satu cara menumbuhkan perasaan kepada anak2 bahwa mereka memiliki hak untuk bertanya pada orang tuanya kapan saja. Cara ini akan membantu mengurangi timbulnya kemungkinan anak2 akan mengkhayal tentang sesuatu pendapat yang salahyang mereka peroleh dari buku, dunia maya dan teman2 mereka. Dari diskusi ini diharapkan anak2 tak akan membentuk pendapat bahwa soal seks adalah hal yang tabu dibicarakan dengan orang tua sendiri.

🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s