Memilih Teman Hidup


Nah..ngemeng-ngemeng eh salah maksudnya ngomong-ngomong xixixixi.., kalo udah ngomongin pasangan hidup wahhh..yg lajang-lajang pasti hidup deh matanya …hati-hati jaman sekarang jangan sampe salah pilih..bukan artinya kita mencari seseorang yang sempurna, hanya saja kita kudu pilih yang bener-bener “PAS”..karena kita akan menghabiskan sisa hidup dan berbagi apapun berdua..

saya akan menulis sedikit yang saya ketahui dari apa yang pernah saya baca..dan sedang saya terapkan🙂, kiranya ini bermanfaat dan berguna ya…

Pendahuluan…

Topik Memilih Teman Hidup sudah cukup sering dibicarakan dan ditulis. Dalam makalah ini penulis sengaja mengangkat satu sub tema yang perlu dicamkan oleh setiap orang yang sedang bergumul memilih calon teman hidup. Yakni menyadari mitos-mitos atau persepsi yang keliru dibalik pemahaman diri akan cinta, pacaran dan seksualitas. Salah satu yang menghambat keluarga atau pasangan bertumbuh adalah karena membawa mitos-mitos ini dalam

Mitos-Mitos Cinta

1. Umumnya orang menikah memberikan alasan ‘karena saling mencintai’ untuk memasuki pernikahan. Namun jawaban itu tanpa disadari merupakan suatu mitos saja. Dalam pengalaman konseling para ahli keluarga, ditemukan kebanyakan orang menikah pada dasarnya bukanlah didasarkan pada cinta.

2. Ternyata ada banyak alasan lain yang justru lebih mempengaruhi keputusan orang menikah, antara lain: (a) kadung/ terlanjur hamil (b) hanya karena ada perasaan mau bebas dari teman lama, maka muncul keinginan menikah dengan pacar kedua; (c) melarikan diri dari lingkungan keluarga yang tidak bahagia (d) perasaan kesepian (lonelines), (e) tertarik pada penampilan fisik semata dan (f) karena adanya tekanan sosial (social pressure).

3. Menurut WG de Vries[2] dalam bukunya, Marriage in Honor, banyak orang berpikir bahwa menikah itu satu-satunya jalan untuk menikmati kebahagiaan. Ini juga suatu mitos. Mitos ini dipengaruhi oleh pelbagai iklan dan film. Banyak orang tidak menyadari bahwa pengertian cinta yang mereka miliki itu sebenarnya telah terkontaminasi oleh keinginan atau needs pribadi yang dipolusi oleh pelbagai media tersebut. Misal, kalau saya menikah akan ada orang yang melayani dan membantu kekurangan saya; saya akan lebih terhormat kalau menikah dengan si “X”, dlsb. Atau tidak sedikit orang yang mengatakan ‘menikah karena cinta’ lebih didorong oleh satu asumsi yang salah. Misalnya kebanyakan pria memahami cinta sebagai satu dorongan seks yang kuat.

4. Banyak orang menikah berkata mereka menikah dengan alasan saling mencintai. Namun sebenarnya kebanyakan mereka memahami cinta hanya sebagai ‘psychological phenomena’. Artinya, hanya kebetulan ada (a) Perasaan tertarik pada fisik dan kondisi lahiriah lawan jenis. Misal melihat wajah cantik, kekayaan atau kepandaian; atau (b) karena adanya kesempatan tertentu, atau sering-sering ketemu, lalu bergaul kemudian muncul keintiman dalam pacaran. Seperti Pepatah Jawa terkenal mengatakan ” witing tresno jalaran soko kulino”

5. Masalahnya ialah, tidak sedikit pasangan itu sebenarnya tidak benar-benar saling mengasihi, namun mengapa mereka tetap memaksa diri untuk menikah? Ada beberapa alasan yang mendorong mereka memaksa diri menikah yakni : (a) adanya sentuhan atau hubungan fisik yang mendalam, sehingga malu atau enggan untuk memutuskan hubungan (b) Ada pula yang sekedar untuk memperbaiki dan melengkapi diri yang kurang. Misal sebagian pasangan kumpul kebo adalah dengan motif ekonomi, agar uang yang kurang dapat tercukupi dengan tinggal bersama dengan sang pacar, dan (c) Ada pula yang didorong oleh faktor cinta neurosis. Sebagai contoh, ada orang menikah karena kehilangan ayah atau ibu, dan berharap pasangannya itu dapat menggantikan salah satu orangtua yang telah tiada secara simbolis.

6. Satu hal yang perlu dipahami setiap orang yang sedang berpacaran dan sedang menggumuli keyakinan pribadi akan calon teman hidup adalah, memahami bahwa bermesraan (Romance) dan cinta (love) itu berbeda. Bermesraan lebih didasarkan pada pengertian yang minim akan orang lain. Romance lebih dibangun atas “pengharapan yang buta tanpa melihat realita yang ada”. Mereka hanya ingin saling memiliki dan menikmati. Cinta didasarkan pengenalan mendalam akan pasangannya

7. Tiga Fase Cinta. Sekarang kita sedikit bicara tentang cinta. Menurut Stenberg (yang dikenal dengan teori segitiga cinta), cinta mempunyai tiga komponen (sisi). Pertama, Intimacy. Ini adalah aspek emosi dari cinta. Bila relasi tidak baik intimacy dapat menjadi mati. Atau kalaupun tetap ada namun sifatnya laten (tersembunyi). Kedua, Gairah (passion). Ini adalah sisi motivasi dari segitiga itu. Sisi inilah yang punya peranan penting bagi perkembangan fisiologis dan keinginan yang kuat untuk bersatu dengan yang dicintai. Pada mulanya passion bertumbuh cepat dan sangat kuat, sampai tidak lama kemudian passion ini jadi kebiasaan. Inilah yang memikat anda kepada seseorang. Ketiga, sisi commitment. Ini disebut sisi kognitif dari cinta. Komitmen adalah tekad untuk memelihara cinta. Komitmen ini bertumbuh mulai dari taraf nol saat pertama kali bertemu dengan yang dicintai, dan bertumbuh ketika semakin saling mengenal satu dengan lainnya. Bila relasi melemah maka komitmen juga cenderung turun atau melemah.

8. Tahap-Tahap Cinta. Cinta yang baru adalah bagaikan sebuah api, seungguh cantik, sungguh panas, sungguh bergelora, namun tetap hanya sebuah cahaya yang berkelap-kelip. Cinta dari hati yang lebih dewasa dan berdisiplin bagaikan batubara, membara tidak terpadamkan (Henry Ward Beecher). Tahap satu adalah Romantis. Dunia terasa milik berdua, lainnya kost. Tahap kedua, saling adu kekuatan. Masa ini mulai penuh ketegangan. Mulai ribut. Tahap ketiga, kerja sama. Tahap empat: kebersamaan. Bersama-sama menghadapi perubahan dan perbedaan. Tahap kelima, kreatifitas bersama. Di sini cinta melimpah ruah

Mitos Dalam Pacaran

Ada beberapa mitos yang banyak dibawa orang ketika berpacaran. Diantaranya adalah :

1. Tidak sedikit mereka yang berpacaran beranggapan “Orang dewasa yang berani ambil keputusan adalah berani bertanggung jawab apa yang sudah dijanjikan. ” Namun harus kita sadar dan ingat, bahwa kedewasaan tidak sama dgn sikap nekad. Org dewasa haruslah tahu apa yg primer dan yang sekunder.

2. Ada juga orang berpikir “Orang kristen pastilah orang yang baik dan siap belajar untuk menjadi orang yang lebih baik.” Dalam realita tidak sedikit orang kristen tidak bertanggungjawab dengan pernikahan. Status kristen tidaklah menjamin mantapnya jalan pernikahan Anda kelak.

3. Ada yang beranggapan : “Kami happy dan betul betul saling mencintai. Karena itu kami pasti siap menikah.” Justru calon pasangan demikian perlu diwaspadai. Sebab sejak berpacaran mereka harus beraaptasi dengan pelbagai konflik yang akan terus bertambah seiring dengan saling makin mengenal.

4. Ada yang berpikir “Pasangan yang siap menikah adalah pasangan yang sungguh-sungguh dengan hati bersih dan tulus saling mencintai.” Banyak oranag tidak sadar bahwa setiap orang, termasuk orang kristen yang sudah lahir baru dan aktifis gereja sekalipun masih membawa sifat daging atau natur dosa.

5. Ada pula yang berpikir bahwa “Orang yang mengerti prinsip prinsip pernikahan kristen adalah orang yang ready utk menikah.” Pengetahuan calon anda tentang teori pernikahan atau teologi dan psikologi keluarga tidak menjamin sukses pernikahan anda. Penting sekali untuk memahami life-structure masing-masing. Life-structure ditentukan oleh faktor herediter dan pembentukan atau pengalaman belajar masa kanak-kanak.

Mitos seks

Mitos yang umum tentang seks di kalangan masyarakat kita adalah pemahaman bahwa seks itu kotor, jadi tabu dibicarakan. Kita perlu melihat pernyataan Alkitab. Khususnya Kej.2;24 Bagi Wayne Mack [3] ayat ini menekankan Seksualitas kita adalah merupakan pemberian Tuhan sebagai Pencipta yang baik bagi kita sekalian. Menjadi satu daging berarti menjadi satu dalam totalitas kehidupan. Tingkah laku seksual dalam pernikahan berarti adanya satu kesatuan dan sharing yang mendalam dengan jalan masing-masing mengenali pasangannya secara intim. Dalam bahasa aslinya untuk melukiskan persetubuhan antara Adam dan Hawa dalam Kej 4;1 adalah, ‘ kemudian manusia itu mengenal (terjemahan bahasa Indonesia adalah bersetubuh dengan) Hawa istrinya, dan mengandunglah perempuan itu…”. Ini, bagi Lahaye[4] menunjukkan perkawinan menuntut pertautan pikiran, hati, perasaan dan tubuh yang berlangsung secara intim dan menakjubkan di dalam suatu klimaks yang penuh berahi, dan menenggelamkan pelakunya ke dalam suatu gelombang kelegaan dan tanpa dinodai oleh perasaan bersalah.

Hubungan seksual lebih dari sekedar hubungan fisik. Ini adalah simbol dari satu relasi spiritual dan ekspresi dari kesatuan yang complete dari dua orang yang menikah. Relasi seksual adalah satu tindakan yang normal dan menjadi bagian dari kesatuan yang sejati dalam perkawinan. Pernikahan bukan hanya semata-mata hubungan fisik, tetapi pernikahan adalah satu tindakan saling membagi. Ini adalah satu tindakan kesatuan, tindakan total self-giving

Seksualitas kita termasuk di dalam rencana Sang Pencipta, yaitu supaya berkembang sebagai citra Tuhan. Namun hubungan seksual hanya diperkenankan dalam pernikahan. Untuk itu dituntut kemurnian dan penguasaan diri selama masa pacaran. Kemurnian, menurut Heuken[5] adalah, suatu kekuatan yang membuat kita mampu memanfaatkan nafsu seksuil menjadi satu tenaga positif yang mengabdi kepada perkembangan kepribadian kita yang seimbang. Masing-masing dituntut menjaga kesucian seks. Menurut Tim Lahaye[6], persetubuhan hanya diijinkan dalam pernikahan. Persetubuhan dalam pernikahan ialah: hubungan indah dan intim yang secara unik dinikmati bersama oleh sepasang suami istri dalam keleluasaan untuk bercinta yang dimiliki mereka saja.

Fase-fase Pacaran sampai dengan Menikah

Ada beberapa fase di dalam menjalani masa pacaran hingga menuju pernikahan. Menurut D. Scheunemann[7] menyebutkan ada empat pintu memasuki pernikahan. Kita sebut saja P-4, yakni: Persahabatan, Pacaran, Pertunangan dan Pernikahan. Kalau mau aman dan nyaman di dalam rumah pernikahan masuklah baik-baik dan bertanggungjawab dari pintu pertama. Keempat pintu itu harus pula melewati pintu pertobatan dan “jalan raya pergaulan bebas”.

Sedangkan Adler dalam bukunya “Interplay : The Process of Interpersonal Communication,” Ronald Adler et al[8]. mengemukakan beberapa tahap perkembangan dalam berelasi. [9]
Pertama, fase kenalan atau initiating. Pada tahap ini keduanya berusaha mengenal secara umum akan teman dekatnya. Kedua, fase experimenting. Sesudah membuat kontak mulai ada keinginan untuk mencari tahu keistimewaan atau kekhususan temannya. Mau mencari persamaan-persamaan dengan teman barunya, dlsb. Pada tahap ini masih superficial.

Ketiga, fase intensifying. Pada tahap ini sudah terjadi pengenalan diri yang lebih mendalam. Sesudah relasi menguat masing-masing individu mulai menempatkan identitas masing-masing ke dalam satu unit sosial. Mulai membentuk jati diri sebagai pasangan. Disini perasaan saling memiliki bertumbuh. Terakhir, fase integrating. Yakni, mulai bicara hal yg private dan makin tercipta bonding (ikatan). Disini mereka mulai menyatakan kehadapan publik lewat simbol akan status mereka bahwa hubungan mereka telah eksis, misal dengan gandengan tangan, dlsb. Hubungan merekapun makin eksklusif.

Dua Faktor Penting dalam Memilih Jodoh

Menurut Scheunemann, ada dua faktor utama yang perlu dipertimbangkan setiap orang yang hendak menggumuli calon teman hidupnya.

Faktor Manusiawi
Faktor manusiawi ini mencakup : faktor fisik, latar belakang, latar belakang sosial-Ekonomi, latar belakang pendidikan, Gereja, pendidikan dan karakter/ temperamen. Semua faktor ini perlu dipertimbangkan. Perlu diyakini, apakah anda cukup mampu menghadapi calon Anda yang akan tinggal bersama kelak dalam jangka waktu yang sangat panjang sampai meninggal dunia.

Perlu diingat, Allah tidak meniadakan faktor-faktor ini untuk Anda pertimbangkan. Hanya saja jangan sampai persyaratan yang anda berikan terlalu kaku atau ketat, atau terlalu berharap calon teman hidup anda sangat sempurna.

Faktor Ilahi
Faktor ini mencakup : pertama, Anda menggumuli Firman Tuhan. Sebab melalui Firman-Nya, apakah yang diperoleh lewat saat teduh pribadi, bible study, menengarkan kotbah, ceramah dlsb, anda dapat mempertimbangkan calon Anda seturut enggan Firman yang Anda gumuli dan pelajari setiap saat. Kedua, adalah mendapatkan sebanyak-banyaknya Informasi tentang calon Anda. Indormasi ini dapat anda peroleh dari orangtua, sahabat dekat, Hamba Tuhan, dan sebagainya. Anda perlu mengenali secara mendalam identitas dan latar belakang calon Anda. Dengan kata lain anda perlu mendapatkan referensi dari beberapa orang yang anda percayai. Ketiga, anda bisa tahu itu kehendak Tuhan lewat Kejadian atau Peristiwa yang terjadi. Keempat adalah lewat Sejahtera Ilahi di dalam hati anda. Meski ini dapat saja sangat subjektif, namun dengan anda memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan dan Firmannya, maka Roh Kudus dapat menuntun Anda pada jalan yang benar dalam proses pemilihan calon teman hidup.

BUKTI-BUKTI CINTA SEJATI

Dalam menjalani masa pacaran dan pertunangan sampai kepada pernikahan, maka anda dapat menguji cinta Anda. Ada beberapa bukti cinta yang dapat anda selidiki setiap saat, apakah cinta Anda masih bertumbuh atau tidak. Pertama, cinta itu menaruh Penghargaan yang tinggi kepada pasangan Anda. Kedua, adanya kesediaan berkorban. Ketiga, ingin membagikan segala sesuatu kepada pasangan Anda. Keempat, ingin melindungi pasangan Anda. Kelima, berani dan siap menanggung kebiasaan pasangannya, terutama kebiasaan buruknya, Keenam, dapat sabar menunggu waktu serta tidak luntur karena bertengkar.

PERBEDAAN PACARAN DUNIAWI DAN BERTANGGUNG JAWAB

Perlu juga kiranya kita menguji apakah berpacaran kita bertanggungjawab.

Pacaran Duniawi
a. bertujuan mencari pengalaman dan kenikmatan cinta itu sendiri
b. memanfaatkan tubuh pasangannya untuk memuaskan perasaan seksual
c. berorientasi pada masa kini, karena itu mudah menimbulkan luka yang dalam jika terjadi perpisahan.

Pacaran yang bertanggungjawab
a. Melihat hubungan pacaran sebagai kemungkinan titik tolak menuju lorong rumah nikah
b. Melihat tubuh pasangannya sebagai rumah kediaman Roh Allah yang dikagumi dan dihargai sebagai ciptaan Allah.
c. Berorientasi masa depan. Membatasi segala intimitas fisik. Menyadari pacaran ini belum mengikat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s